Menilai Ahok: Setelah pengkhianatan itu. 

Bacaan Siang

Mind in progress: Ardi Wirdamulia

Akhirnya Ahok memutuskan untuk mencalonkan diri dari partai politik. Menjilat semua ludah yang telah dia keluarkan. Tentang bobroknya partai politik. Tentang partai politik yang tidak mungkin lepas dari politik uang. Tentang kerelaan tidak jadi gubernur kalau harus meninggalkan Teman Ahok. Semua. Karena pada akhirnya dia tidak bisa mengingkari syahwatnya untuk jadi Gubernur.
Apa yang harus kita cermati dari kejadian ini? Banyak.

Utamanya, ini adalah penegasan terhadap karakternya. Sejak awal saya selalu mengingatkan bahwa Ahok adalah seorang megalomania. Sehingga Ahok pasti di-drive oleh kemauannya untuk mendapatkan kemuliaan berupa kekuasaan. Dengan segala cara.

Saya kira track-recordnya jelas untuk segala bentuk pragmatisme yang dia lakukan. Dari menjadi kutu loncat dari partai ke partai. Sampai, ini yang agak mencemaskan, melakukan akrobat kekuasaan pada soal reklamasi. Sebentar lagi akan terlihat di pengadilan kalau perjanjian premannya dengan pengembang itu tidak punya dasar hukum. Suram.

Karakter, untuk orang seusia Ahok tidak akan berubah banyak. Ekspresi megalomania…

View original post 392 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s